Teguran adalah Perbaikan

Minggu sore, 3 mei 2020
Teguran adalah Perbaikan

Minggu sore, langit pun biru bertaburan gambar berterbangan dengan benang, layangan berkumandang dimusim dirumah aja. Bertaburan anak anak kecil berlari mengejar harapan untuk memiliki dari ke-kalah-an. Hiruk pikuk membumbui kehidupan menjadi hidup di perumahan bukit. Tahun 2020 sejarah baru, diperjalan abad yang belum tau apa namanya ini.
Meliahat suasana sore, anak-anak menjadi buah kehangatan yang bernuasa riangnya, aku bangga dengan aktif gerak anak-anak itu, tubuhnya mulai aktif kembali mengejar sisa dari kekalahan, sekian lama terpenjaran sistem keadaan sosial (HP).
Dibalik indah minggu sore itu ada sebuah pengalaman yang menarik untuk kita kenang yang dijadikan nilai pembelajaran buat diri kita sendiri, begini lah ceritanya......
Duduk aku bersantai lepas dari pekerjaan workshop, halaman belakang rumah menjadi tempat dimana bersantai melepas lelah bekerja, ramadhan yang penuh kegiatan dari pagi hingga sore.
Duduk aku di bangku kayu karya ku, bersantai memandangi langit dan tawa anak berlarian, ditemanin tetangga ku bersantai pula di halaman belakang, hilir orang tak bersapa dihadapan bersantai berjalan. Tak ada pikiran apapun aku melihat ke-aneh-an sore itu. Aku masih bersantai  dengan pakV, ( nama saduran ) kita hanya senyum senyum melihat layang layang yang terbang.
Aku bangku kayu, pakV di bale bambu. Posisi kami berhadapan, namun kami belum membuka obrolan apapun. Kira-kira setengah 6 sore, pakUS datang menghampiri kami, ia duduk dibangku kayu menggantik saya.
Aku pun bergeser untuk persiapan memasak air, kayu yang ku belah kecil, pelan-pelam ku masukan kedalam tungku. Sapa ku dengan canda, ke pakUS “kopi gan”, jawab pakUS “ ngopinya, kerja mulu”, aku pun menjawab “sorry bgt gan, lagi banyak kerjaan, paling seminggu gan, nanti kita santai ngopi lagi”. Aku menatapnya sepintas dari tungku kompor saat api sedang merintis nyalanya, panci pun belum sempat aku taro diatas tungku, pakUS berkata “warga juga udah ada yang komplen” tuturnya. PakUS masih melanjut pembicaran, namun aku tak menyimaknya, hanya melihat ia yang bertutur tidak menghadap ku, tatapanya hanya  ke timur. Hati terasa gemetar, kesambar petir disore hari. PakV  ia diam melihatkan HP dan jari jemari bergerak keatas bawah,
PakUS pun diam sejenak, aku tersungkur tersindir, berkecamuk dalam pikiran dan diam, beberapa detik berjalan aku tak kuasa dan melepas kata kepada pakUS “Bodo amatan Kita mah”, sambil melihat yang tetap bertatap ke arah timur, dia berkumandangkan sair yang sangat menghunus hati ku, (mang ada izinnya ente, dan lain2 ) hati pikiran terbungkus delema mendengar tutur yang, phobia ku berkecambuk kembali. Diam aku mengusap harapan, sekejam kenyataan kehidupan sosial masyarakat kerja ini kepada orang wirausaha di negeri yang merdeka ini.
Adzan magrib berkumandang, menenangkan sejenak memohon pada tuhan, Ya Allah lapangkan hati ku, terseduh-seduh aku mengingat apa terjadi padaku yang berulang ini. Mengingat cerita teman-temen yang usaha yang penuh pahit getihnya dengan segala resikonya, lemah diri ku, namun kehidupan masih berlanjut. Walau pil pahit sudah terhunus kembali setelah beberapa lama, resiko seorang anak manusia yang usaha, apa pun kondisi nya jangan marah, jangan bersedih, perbaiki keadaan atur jadwal dan revolusikan diri untuk tetap berusaha.
Note :
Orang usaha itu tidak enak, penuh resiko. Banyak pahit dibandingkan manisnya, makanya banyak orang pilih kerja dibandingkan usaha sendiri. Kerja seringan-ringanya gajih se- besar-besarnya (pekerja), modal segalanya untung seadanya (usaha )....

Comments

Popular posts from this blog

Frame bmx flatland murah

H-2 Nikah 24 July 2020

Orang Tua atau Ibu Bapak Kita